Sektor pertanian Kabupaten Bantaeng masih mampu mencatat pertumbuhan positif pada Triwulan II 2026.

Di tengah tekanan perubahan iklim dan berkurangnya ketersediaan air, sektor yang menjadi salah satu penopang perekonomian daerah ini tumbuh 1,97 persen dan memberikan kontribusi 25,13 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bantaeng.
Namun, pertumbuhan tersebut berlangsung di tengah tantangan produksi sejumlah komoditas pangan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bantaeng menunjukkan produksi padi mengalami penurunan sekitar 26 persen, seiring berkurangnya luas panen. Sementara produksi jagung turun lebih tajam, yakni sekitar 42 persen.
Ketua Tim Statistik Produksi BPS Kabupaten Bantaeng, Hikmawati, mengatakan penurunan tersebut tidak terlepas dari kondisi iklim yang mulai memberikan tekanan terhadap sektor pertanian.
“Penurunan produksi komoditas pertanian ini disebabkan oleh fenomena El Nino yang telah mulai terjadi pada triwulan II 2026,” katanya.
Hortikultura Justru Menguat
Di tengah penurunan sejumlah tanaman pangan, kinerja berbeda terlihat pada beberapa komoditas hortikultura.
Produksi cabai besar dan cabai keriting meningkat lebih dari 50 persen. Sementara itu, komoditas hortikultura lainnya seperti bawang merah, cabai rawit, dan kentang justru mengalami penurunan produksi.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kondisi iklim dan ketersediaan air memberikan dampak yang berbeda terhadap masing-masing komoditas dan wilayah pertanian di Bantaeng.
Kemarau Mulai Pengaruhi Waktu Tanam
Tekanan terhadap sektor pertanian juga berlangsung seiring perubahan pola cuaca. Berdasarkan laporan BMKG Sulawesi Selatan, curah hujan pada periode Mei hingga Juli 2026 diprediksi berangsur menurun.
Awal musim kemarau di Bantaeng diperkirakan terjadi pada Juli, dengan periode puncak kemarau berlangsung pada Agustus hingga September 2026.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bantaeng, Mahyuddin, mengatakan kondisi ketersediaan air turut memengaruhi waktu tanam dan panen, terutama untuk tanaman pangan.
“Pertanian kita tetap tumbuh 1,97 persen dan memberikan kontribusi 25,13 persen terhadap PDRB Bantaeng. Namun kita juga menghadapi penurunan produksi padi dan jagung. Salah satu kondisi yang kita hadapi adalah berkurangnya ketersediaan air pada sejumlah wilayah pertanian,” ungkapnya.
Menurut Mahyuddin, dampak kekeringan tidak dirasakan secara seragam oleh seluruh wilayah. Lahan yang masih memiliki sumber air relatif mampu mempertahankan kegiatan budidaya. Sebaliknya, lahan yang sangat bergantung pada curah hujan menghadapi tekanan lebih besar.
Pola Tanam Mulai Bergeser
Dinas Pertanian Bantaeng juga mencermati adanya perubahan pola tanam pada sebagian areal pertanian. Sebagian petani mulai menyesuaikan pilihan komoditas dari tanaman pangan ke hortikultura berdasarkan kondisi air dan musim.
Fenomena tersebut terlihat ketika produksi padi dan jagung mengalami penurunan, sementara produksi cabai besar dan cabai keriting justru meningkat lebih dari 50 persen.
“Petani menyesuaikan kegiatan budidayanya dengan kondisi air, musim dan komoditas yang memungkinkan dikembangkan. Tetapi produksi tanaman pangan, khususnya padi dan jagung, tetap harus kita jaga,” kata Mahyuddin.
Strategi Hadapi Tekanan Iklim
Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bantaeng melalui Dinas Pertanian melakukan pemetaan wilayah berdasarkan ketersediaan sumber air, luas tanam, dan luas panen.
Pada wilayah yang masih memiliki ketersediaan air, petani didorong melakukan percepatan tanam, menggunakan varietas genjah, serta menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim.
Sementara pada wilayah dengan ketersediaan air terbatas, penanaman diarahkan agar tidak dipaksakan apabila berisiko mengalami kekeringan sebelum masa panen.
Pendampingan penyuluh juga diperkuat, termasuk pengendalian organisme pengganggu tanaman, penyediaan benih unggul bersertifikat, serta identifikasi wilayah yang menjadi penyumbang penurunan produksi padi dan jagung.
Untuk musim tanam berikutnya, strategi diarahkan pada penguatan produksi benih lokal melalui penangkar dan UPT Balai Benih Tanaman Pangan (BBTP), peningkatan produktivitas sentra padi dan jagung, serta sinkronisasi pola tanam dengan ketersediaan air.
Penguatan sarana produksi, mekanisasi pertanian, dan penanganan pascapanen juga menjadi bagian dari langkah yang disiapkan pemerintah daerah.
Mahyuddin menegaskan, strategi pertanian ke depan tidak hanya berorientasi pada peningkatan luas tanam, tetapi juga memastikan petani mampu menyesuaikan waktu dan komoditas dengan kondisi lingkungan.
“Yang kita jaga bukan hanya bagaimana petani bisa menanam, tetapi bagaimana mereka menanam pada waktu yang tepat, dengan komoditas yang tepat dan dukungan yang tepat. Produksi tanaman pangan harus kita amankan, produktivitas kita tingkatkan, dan kesejahteraan petani tetap menjadi tujuan utama,” pungkasnya.
Humas Pemkab Bantaeng


























