GOWA – Kabar duka menyelimuti lingkungan pendidikan Universitas Hasanuddin (Unhas), Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Seorang mahasiswi berinisial PJT (19 tahun), yang tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Teknik, ditemukan meninggal dunia di kawasan kampus Unhas, Kecamatan Bontomarannu, Selasa (19/5/2026).
Peristiwa memilukan ini menyisakan duka mendalam serta serangkaian pesan perpisahan yang sempat dikirimkan korban sesaat sebelum menghembuskan napas terakhir.
Berdasarkan informasi yang dihimpun awak media, peristiwa bermula ketika korban mengirimkan pesan suara (voice note) melalui aplikasi WhatsApp kepada salah seorang temannya. Dalam rekaman suara yang bernada sangat sedih dan terbata-bata tersebut, korban seolah sudah memiliki firasat bahwa nyawanya tak akan lama lagi.
“Kalau misalnya kamu dengar voice note ini, ada kemungkinan besar aku sudah tidak ada. Tolong temui aku di belakang parkiran Arsi (Arsitektur), bawa aku pulang,” ucap korban dalam potongan pesan yang beredar.
Tidak hanya memberi tahu lokasi keberadaannya, korban juga menyiratkan bahwa dirinya sedang menanggung beban berat dan tekanan hidup yang sulit dihadapi sendirian.
Dalam pesan itu pula, ia menegaskan agar tidak ada pihak mana pun yang disalahkan atas keputusan yang diambilnya.
“Banyak hal terjadi dan keputusan ini murni dari aku. Tolong jangan menyalahkan diri sendiri,” lanjut pesan korban yang menjadi bukti terakhir komunikasi dengan orang terdekatnya.
Tubuh korban kemudian ditemukan oleh seorang mahasiswa lain yang kebetulan melintas di lokasi yang ditunjuk, tepatnya di area belakang parkiran Jurusan Arsitektur. Mendapati korban sudah tak bernyawa, pelapor segera menghubungi pihak berwenang dan keamanan kampus.
Pemeriksaan Awal & Penolakan Autopsi
Menanggapi kejadian tersebut, Kanit Resmob Satreskrim Polres Gowa, Iptu Andi Muhammad Alfian, menjelaskan bahwa pihaknya telah turun ke lokasi dan melakukan pemeriksaan awal terhadap jenazah korban.
Berdasarkan pantauan fisik tim penyidik, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan yang ekstrem atau luka serius yang mencurigakan pada tubuh korban.
“Kalau dibilang bunuh diri, bisa jadi. Tapi kalau dibilang melompat, tidak ada patah-patah pada jenazah ini, tidak ada luka serius juga,” ungkap Iptu Andi Muhammad Alfian saat dikonfirmasi di Mapolres Gowa.
Semula, pihak kepolisian berencana membawa jenazah korban ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk dilakukan pemeriksaan autopsi secara menyeluruh guna memastikan penyebab pasti kematian. Namun, rencana itu batal dilakukan karena adanya keputusan dari pihak keluarga.
Orang tua dan keluarga besar korban secara resmi menyatakan telah mengikhlaskan kepergian anaknya dan dengan tegas menolak agar jenazah korban dibedah atau diautopsi. Atas permintaan keluarga tersebut, pihak kepolisian menghargai keputusan itu dan menyerahkan jenazah untuk segera disemayamkan.
Hingga saat ini, meski dugaan sementara mengarah pada tindakan mengakhiri hidup sendiri akibat tekanan berat, pihak kepolisian belum menarik kesimpulan akhir.
Proses penyelidikan dan pemeriksaan saksi-saksi di sekitar kampus hingga saat ini masih terus berjalan.(***)


























