Wakil Bupati Bantaeng, H. Sahabuddin selaku Ketua Tim Satuan Tugas Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Bantaeng, memberikan klarifikasi resmi terkait laporan adanya sejumlah anak yang mengalami gejala muntah dan diare di wilayah Batu Tiroa di Desa Bontobulaeng, Kecamatan Sinoa pada awal April 2026.
Perihal tersebut disampaikan Wakil Bupati Bantaeng, H. Sahabuddin usai memimpin rapat dengan Tim Satgas dan Tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bantaeng pada Jum’at malam (03 April 2026).
Berdasarkan hasil investigasi komprehensif Tim Satgas dan Tim Medis Dinkes Bantaeng, kasus tersebut dinyatakan murni sebagai gangguan pencernaan akibat pola konsumsi, bukan keracunan pangan.
Wakil Bupati menjelaskan bahwa Tim Gerak Cepat Dinas Kesehatan telah melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) terhadap 6 orang anak yang sempat mendapatkan perawatan di Puskesmas Sinoa pada Rabu (1 April 2026).
Kronologi dan penyebab medis yang disampaikan oleh Wakil Bupati didampingi Sekretaris Satgas MBG Kab. Bantaeng, Kabag Perekonomian Yanti Mustajab, Kepala Dinas Kesehatan Bantaeng dr. H. Andi Ihsan, M.Kes beserta tim Penyelidikan Epidemiologi (PE), memaparkan bahwa gejala muncul setelah para korban mengonsumsi kombinasi makanan secara bersamaan pada pukul 16.00 Wita.
“Berdasarkan hasil wawancara dan pemeriksaan medis, ditemukan bahwa anak-anak tersebut mengonsumsi campuran Susu UHT, buah pepaya, dan gula pasir secara bersamaan,” kata Wakil Bupati.
Secara medis, laporan epidemiologi menunjukkan terjadinya interaksi antara enzim papain pada pepaya dengan protein kasein pada susu.
Hal tersebut menyebabkan:
1. Koagulasi Ekstrem: Susu menggumpal secara mendadak di lambung sebelum enzim alami lambung bekerja, sehingga memicu mual dan muntah pada anak dengan lambung sensitif.
2. Efek Laksatif: Kombinasi serat pepaya, gula, dan laktosa meningkatkan tekanan osmotik di usus yang mempercepat gerakan usus (peristaltik), sehingga menyebabkan diare.
Ini bukan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan
Pemerintah Kabupaten Bantaeng menegaskan bahwa kejadian ini bersifat terbatas dan tidak ditemukan adanya hubungan dengan penyedia makanan dari program resmi (SPPG).
”Kami tegaskan bahwa ini bukan merupakan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan bukan pula kasus keracunan makanan. Diagnosa dokter menunjukkan adanya maldigestion atau gangguan pencernaan akibat kombinasi makanan yang kurang tepat,” tegas Ketua Satgas MBG Kabupaten Bantaeng.
Kondisi Pasien Membaik
Hingga saat ini, ke 6 pasien yang terdiri dari siswa SD 69 Batu Tiroa, TK Taqwa, dan anak usia pra-sekolah sudah kembali kerumahnya masing masing dan telah mendapatkan penanganan simtomatik di Puskesmas Sinoa.
Seluruh pasien dilaporkan membaik dengan cepat dan tidak ditemukan tanda-tanda gagal organ vital maupun syok.
Wakil Bupati mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan kombinasi jenis makanan yang dikonsumsi anak-anak guna menghindari iritasi mukosa lambung serupa di masa mendatang.**





















